MALAM Renungan AIDS Nusantara Lhokseumawe 2013 dihadiri ratusan peserta dari berbagai kalangan, Selasa, 21 Mei 2013. Malam renungan AIDS Nusantara yang digelar mulai pukul 20.00 – 22.00 WIB di Aula Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh (Unimal), sebagian besar di ikuti oleh Pelajar dan Mahasiswa.
“Ini adalah acara malam renungan AIDS Nusantara. Acara ini bertujuan untuk mengenang teman-teman HIV ataupun ODHA yang sudah meninggal, dan juga untuk merenung kembali bagaimana memperlakukan penderita Negatif dan Positif HIV. Mereka juga layak hidup tanpa
ada diskriminasi oleh lingkungan masyarakat,” ujar Ketua Panitia pelaksana Peringatan malam renungan AIDS Nusantara 2013.
“Kegiatan malam ini merupakan salah satu bentuk solidaritas kita terhadap ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) dan OHIDHA (Orang Yang Hidup Dalam HIV/AIDS). Kegiatan ini selalu diadakan tiap tahun di bulan Mei,” ujar Oki Satria selaku ketua panitia pelaksana kegiatan.
Kepanitiaan MRAN kali ini melibatkan 17 instansi yang peduli HIV/AIDS terdiri dari Yayasan Permata Atjeh Peduli, UKM Korps Suka Rela unit 04 Unimal, UKM Korps Suka Rela unit 08 STAIN Malikussaleh, UKM Korps Suka Rela unit 11 STMIK Bina Bangsa, Himpunan Mahasiswa Kedokteran Unimal, Palang Merah Indonesia kota Lhokseumawe, Komisi Penanggulangan AIDS kota Lhokseumawe, Lhokseumawe, BEM sekolah Akademi kesehatan Pemda Aceh Utara, Komunitas Sastradan theater Lazuardi Lhokseumawe, Himpunan Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara Unimal, LPKN Lhokseumawe, PIKMA Aceh Utara dan Peer Educator Yayasan Permata Atjeh Peduli Lhokseumawe dan Bireuen, Polres Kota Lhokseumawe serta Fatayat NU lhokseumawe yang terbentuk dalam Panitia Bersama Malam Renungan Aids Nusantara Lhokseumawe 2013 yang disponsori oleh :
- Yayasan Permata Atjeh Peduli Lhokseumawe
- Badan Musyawarah Perbankan Daerah Lhokseumawe
- KRS 04 Universitas Malikussaleh Aceh Utara
Kegiatan tersebut, kata Oki, berawal dari keprihatinan sekelompok anak-anak muda Aceh, khususnya yang di Lhokseumawe terhadap stigma dan diskriminasi terhadap ODHA dan OHIDHA. Melalui kegiatan ini, kata Oki, anak muda tersebut di Lhokseumawe ingin mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak mendiskriminasi para penderita AIDS. Selain itu turut mengajak kawula muda untuk menjauhi penularan penyakit mematikan tersebut.
Penularan HIV, kata Oki, hanya bisa dicegah dengan ilmu pengetahuan dan peningkatan akidah agama. ODHA dan OHIDHA tidak perlu dijauhi, dikucilkan ataupun didiskriminasi. “Yang penting adalah jauhi virusnya bukan orangnya sehingga mereka bisa menjalankan hidupnya lebih produktif lagi,” kata dia.
Kegiatan ini dibuka oleh Asisten III Pemerintah Kota Lhokseumawe. Selain itu dihadiri oleh perwakilan dari Kodim, Korem serta unsur Muspika. Peserta malam renungan yang hadir sangat terhibur dengan theater yang disuguhkan oleh Komunitas Lazuardi. Dalam teater tersebut menceritakan sekumpulan remaja yang tertular penyakit HIV/AIDS karena pergaulan bebas.
Di akhir pertunjukan, komunitas Lazuardi memberikan pesan kepada para penonton untuk menjauhi pergaulan bebas dan jangan mendiskriminasi penderita penyakit tersebut.
Selanjutnya di acara puncak Malam Renungan Aids Nusantara, peserta dari kalangan remaja putri dan juga putra, menangis tersedu-sedu dibawah cahaya lampu yang remang-remang, tatkala menyaksikan pemutaran film tentang Orang Dengan penderita HIV/AIDS (ODHA) yang sebagian besar didominasi oleh kaum tak berdosa seperti anak-anak dan bayi dibawah lima tahun (Balita), dengan kondisi fisik yang menyedihkan dan badan kurus kering menunggu detik-detik kematian.










