Home » Berita » YPAP Lakukan Silaturahmi Dengan Komisi Penanggulangan AIDS Aceh

YPAP Lakukan Silaturahmi Dengan Komisi Penanggulangan AIDS Aceh

Oleh

Contributor

kpapBanda Aceh – Team Yayasan Permata Atjeh Peduli yang berjumlah 6 orang melakukan kunjungan kerja ke Komisi Penanggulangan AIDS ProvinsiAceh, Rabu (27/02/2013).

Dalam pertemuan itu, YPAP menyerahkan rekomendasi yang dihasilkan dari pertemuan ODHA dan menyampaikan permasalahan-permasalahan yang dihadapi di wilayah kerja YPAP selama ini.

Sebelumnya, Selasa (26/2/2013) YPAP mendampingi seorang klien ke RSUZA untuk pengecekan CD4 dan pada hari itu juga, YPAP juga melakukan pertemuan dengan Dinas Kesehatan Aceh yang disambut oleh Sekretaris Dinas Kesehatan Aceh Bapak Burhanuddin. Pada kesempatan ini, YPAP menginformasikan implementasi program kerja YPAP selama ini dan permasalahan yang ditemui YPAP dilapangan.

Selanjut team YPAP menyambangi Hotel Kuala Raja Banda Aceh untuk bertemu dengan KPAP Aceh.  Team YPAP disini diterima Sekretaris KPAP Aceh dr Ormaia Nya Oemar, staf KPAP Aceh Dewi Fahcrina dan Rahmad staff Monev KPAP Aceh. Dalam pertemuan tersebut YPAP menyampaikan maksud dan tujuan silaturrahmi, diantaranya :

  1. Menawarkan untuk memediasi beberapa lembaga baik pemerintah dan organisasi sipil untuk mengadakan rapat koordinasi tingkat propinsi mengenai pengimplementasian program HIV di Aceh.
  2. Menyampaikan hasil pertemuan ODHA se-Aceh yang digelar YPAP di Lhokseumawe 15-17 Februari 2013 secara langsung. ]
  3. Menyampaikan bahwa di lapangan khususnya di wilayah kerja YPAP ada permasalahan yang dihadapi ODHA baru dalam hal bantuan pelayanan medis maupun nutrisi.

Dari penyampaian hal-hal diatas pertama sekali ditanggapi langsung oleh Sekretaris KPAP Aceh dr Ormaia Nya Oemar. “KPAP Aceh tidak butuh atau perlu dimediasikan oleh YPAP mengenai hal ini, baik kepada pemerintah dan organisasi lainnya. Kalau ada organisasi atau orang yang perlu sama kami, langsung saja datang dan berkoordinasi dengan kami, lebih efesien,” ujarnya.

Tentang penyampaian rekomendasi  tertulis dari YPAP, langsung diterima dengan baik dan KPAP berterimakasih karena sudah disampaikan secara langsung. Tetapi disampaikan juga kepada team YPAP agar menghindari membuat acara diluar sepegetahuan mereka dan membuat berita tentang data selain dari yang dikeluarkan KPAP Aceh mengenai ODHA.”Karena hal ini bisa menyebabkan kebingungan dan permasalahan di lingkungan kami dan saya ditegur oleh Dinkes dalam hal ini,” ungkapnya.

“Mengenai ada ODHA lain diluar data yang ada di KPAP Aceh, tidak perlu didata dan diumbar di publik, karena ODHA yang tidak diatas kertas, berarti bukan ODHA dan tidak bisa mendapatkan bantuan medis dan nutrisi. Karena memang tidak mau disertifikatkan/ataskertaskan, jadi ya tidak bisa dipertanggungjawabkan,” pungkasnya.

Sementara itu, Staff Monev KPAP Rahmad menyatakan, Monev dalam menjalankan program penanggulangan HIV-AIDS tidak perlu realese media. “Jika YPAP sendiri memberitakan dan kirim ke milis dari kegiatan yang dilakukan, jadi dimana kode etiknya lagi. Jadi kedepan jangan sebar realese di media dan milis,” harapnya.

Laporan kegiatan cukup hanya untuk laporan lembaga, karena tambah Rahmad mungkin ada pihak yang tidak suka KPAP Aceh. “Jadi ada pihak-pihak yang suka menjelekkan dan mendiskriditkan kami, jadi YPAP jangan memberitakan kegiatan lagi. Seperti kami hari ini buat pelatihan PMTS tidak gembar-gembor ke media”.

Fadhli Djailani Coordinator Outreach YPAP berterimakasih kepada Dinkes Propinsi dan KPAP Aceh yang telah bersedia bertemu pihaknya serta telah menasehati TEAM YPAP dengan nada emosi tentang apa yang harus dilakukan YPAP kedepan. “Tetapi memang seperti menengakkan benang basah dan kami merasakan diskusi tidak kondusif dan setelah sedikit tenang, team YPAP minta izin untuk melanjutkan kegiatan lainnya di Banda Aceh,” sebut Fadhli dalam rilisnya kepada AtjehLINK, Kamis (28/02/2013).

“Mengenai ODHA baru yang tidak mau ‘di-ataskertaskan’, kami lihat ini masalah kepercayaan dan kenyamanan ODHA baru. Mereka walau tidak ada status di atas “kertas”, mereka tetap harus diperhatikan, didampingi, dibantu dan didengar permasalahan yang dihadapi oleh mereka. Mereka juga bagian dari kita,” pungkas Fadhli. | Source : Atjehlink.com

Share: