Bireuen – Team Peer Educator Bireuen dan Yayasan Permata Aceh Peduli (YPAP) memberikan penyuluhan HIV-AIDS kepada Staff Dinas Syariat Islam termasuk WH serta Staff Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kabupaten Bireuen di Aula Pertemuan Dinas Syariat Islam setempat Kamis (1/11) dari jam 14.00-17.30 WIB.
Penyuluhan ini diikuti oleh 25 orang, terdiri dari 21 orang perwakilan Dinas Syariat Islam 3 dari MPU dan 1 orang dari Baitul MAL Bireuen. Acara penyuluhan dibuka oleh Sekretaris Dinas Syariat Islam, Muhammad Diah, S. Ag. Ia menyambut baik kedatangan Team Peer Educator Bireuen dan YPAP untuk memberikan sosialisasi HIV-AIDS kepada staff mereka.
Materi HIV-AIDS dasar disampaikan oleh Oki Satria staff YPAP, penjelasan materi ini berjalan lancar dan disambut dengan baik oleh audien mengenai cara penularan HIV-AIDS, media penularan HIV, cara pencegahan Virus HIV.
Ketika sesi kedua tiba yaitu di sesi diskusi Kondom dalam Islam, dibawakan oleh Fadhli Djailani sfaff Outreach Coordinator YPAP. Diskusi ini sempat tidak bisa dilanjutkan karena Kasi Penyelidikan Dinas Syariat Islam Drs. Tgk. Muhammad Daud Yusuf menutup diri untuk tidak bisa mendiskusikan Kondom dalam perspektif Islam atau tidak mau membahas tentang hal ini, karena ditakutkan melegalkan kondom sebagai wadah untuk memudahkan orang berzina dan juga disebabkan alur dari diskusi ini metodenya dengan membagi 7 kelompok peserta diskusi. Dibagi 7 kelompok karena telah disiapkan 7 pertanyaan kunci kepada peserta diskusi.
Setelah penjelasan panjang, bahwa kalau menutup diri dan tidak mau berdiskusi, bagaimana bisa tahu tentang hal ini, tidak berarti mendiskusikan kondom dalam Islam berarti menyuruh orang berzina, minimal mau mendiskusikan hal ini, walau apapun hasilnya.
“Tidak ada pemaksaan hasilnya harus apa dan bagaimana, yang penting kita mau terbuka dan memberi peluang dengan pemikiran kita mengenai hal ini,” ujar Fadhli Djailani.
Akhirnya diskusi bisa berjalan dengan tidak ada pembentukan kelompok, tetapi pertanyaan yang telah disiapkan dijawab bersama-sama oleh peserta diskusi dengan alot dan bersahaja.
Semua sepakat bahwa diskusi seperti ini memang perlu dan hal yang harus diperbaiki sebagai masukan dari Dinas Syari’at Islam mengenai metode diskusi dalam bentuk pertanyaan tidak tepat, menurut mereka.
Selanjutnya untuk sesi ketiga dibawakan oleh Team peer Educator Kabupaten Bireuen yang diketui oleh Zulfikri tentang diskriminasi dan stigma negatif terhadap penderita HIV-AIDS, namun tidak sempat dituntaskan karena waktu sudah sore menjelang malam, waktu banyak tersita karena diskusi alot tentang kondom dalam Islam.
Topik diskriminasi terhahap penderita HIV-AIDS ini sebenarnya sangat penting diberikan kepada DINAS Syariat Islam dan MPU Kabupaten Bireuen, dan kedepan harapan Peer Educator Bireuen bisa melanjutkan lagi penyuluhan ini kepada Dinas Syariat Islam dan MPU Bireuen. “Mudah-mudahan dikesempatan lain bisa mengulang penyuluhan Stigma dan Diskriminasi terhadap penderita HIV-AIDS ini.
Fadhli Djailani Coordinator Outreach YPAP mengharapkan semua kalangan melek, sadar dan tahu tentang HIV-AIDS ada disekitar kita, jangan menutup diri tentang HIV-AIDS, jangan sampai mendiskusikan dan membicarakan HIV-AIDS saja kita enggan dan apalagi menstigma penderita HIV AIDS.
“Tidak semua penularan HIV-AIDS disebabkan oleh perbuatan amoral bejat manusia, tetapi hal ini juga disebabkan hal-hal lainnya diluar perilaku beresiko, makanya pengetahuan adalah modal utama dalam menanggulangi HIV-AIDS “pungkas Fadhli.







