
Yayasan Permata Atjeh Peduli (YPAP) mengajak segenap masyarakat Aceh agar meningkatkan upaya pencegahan terhadap penularan virus Human Immunodeficiency Virus (HIV) / Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) yang jumlah pengidapnya terus meningkat dari waktu ke waktu.
Menurut data yang dihimpun oleh YPAP berkoordinasi dengan Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Propinsi, ditemukan fakta bahwa selama tahun 2013 terdapat sekitar 234 orang terinfeksi virus HIV di Aceh.
Menurut penuturan Project Manager YPAP, Fadhli Djailani, ia menjelaskan bahwa kasus-kasus tersebut terjadi tidak hanya disebabkan oleh perilaku seks bebas tetapi juga perilaku-perilaku lainnya yang rentan dan beresiko menularkan penyebaran penyakit tersebut.
Perilaku beresiko dalam hal ini dikategorikan seperti transaksi seksual (bergonta-ganti pasangan), Penasu (Penggunaan Narkoba Suntik), hingga atktivitas medis yang tidak steril.
“Jumlah ini tersebar hampir di seluruh kabupaten, di antaranya di Bireuen yang berjumlah 24 kasus, Lhokseumawe 20 dan Aceh Utara mencapai 33 kasus. Saat ini Aceh Utara menempati urutan tertinggi di Aceh, ” ujar Fadhli Djailani kepada The Globe Journal, ketika ditemui di kantornya, Lancang Garam, Lhokseumawe.
Fadhli mengatakan jumlah tersebut didominasi oleh masyarakat yang berusia produktif yakni mulai dari 22-50 tahun. Kata Fadhli, aktivitas medis juga beresiko besar menularkan HIV.
“Seperti pada kasus yang terjadi tahun 2012, di salah satu Rumah Sakit di Aceh Utara ditemukan 50 pasien cuci darah terinveksi HIV. Ini artinya, HIV tidak hanya tertular dari aktivitas seksual saja, tetapi juga medis. Jadi, perlu sekali adanya kewaspadaan universal dalam menyikapi realitas ini,” ungkap Fadhli.
Selama ini YPAP sendiri telah melakukan berbagai upaya preventif (pencegahan) untuk menanggulangi dan mengurangi bertambahnya kasus-kasus tersebut.
“Kami sudah berupaya melakukan sosialisasi tentang bahaya HIV/Aids ke berbagai kalangan mulai dari kalangan anak muda (remaja) seperti siswa /mahasiswa, santri dayah, para medis,masyarakat pendesaan, hingga beberapa dinas-dinas pemerintahan,” kata Outreach Coordinator YPAP, Oki Satria.
Oki menjelaskan pendekatan yang telah dilakukan seperti melalui penyuluhan, seminar, talkshow, sosialisasi dalam bentuk brosur, stiker, buku saku dan sebagainya.
Selain itu YPAP juga melakukan pendampingan untuk cek kesehatan serta membuka jaringan untuk layanan terpadu pemeriksaan penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) dan pemeriksaan HIV gratis bagi masyarakat umum.
Menurut Oki, masyarakat seharusnya tidak hanya harus tahu apa itu HIV, tetapi juga tahu bagaimana mencegahnya, menanggulangi bahkan sampai bagaimana masyarakat bisa menerima mereka yang terlanjur mengidap HIV atau Orang Dengan HIV/Aids (ODHA) tanpa adanya perlakukan diskriminatif.
Oki mengatakan bahwa masyarakat tidak seharusnya memusuhi ODHA karena alasan takut tertular, karena jika masyarakat mau menjaga perilaku maka virus tersebut akan mudah dicegah. Ia menegaskan bahwa penularan HIV tidak terjadi dengan mudah yakni hanya melalui tiga hal berupa darah, Air Susu Ibu (ASI) dan cairan kelamin.
“Seharusnya masyarakat tahu hal ini, supaya tidak menaruh stigma dan rasa curiga berlebihan. Kami berharap, semua dari masyarakat kita bisa menjadi “Peer Educator” (Gerakan Pendidik) untuk lingkungannya masing-masing,” kata Oki.
Jika tahun 2012 dan 2013, fokus pencegahan yang ddilakukan pada tingkat komunitas maka di tahun 2014 ini, YPAP akan menprioritaskan kegiatan yang berfokus terhadap kesehatan ibu dan anak dengan cara membangun kerjasama dengan sejumlah bidan dan pukesmas di beberapa wilayah pendesaan di Aceh.
“Lewat dukungan dan kerjasama semua pihak, khususnya dari masyarakat Aceh sendiri, maka semoga saja HIV bisa dicegah, dan jumlah penderita HIVdi Aceh bisa dikurangi, ” tutup Oki. | Theglobejournal.com








