Home » Berita » Harapan Para Penyandang Disablitas Kepada Pemerintah

Harapan Para Penyandang Disablitas Kepada Pemerintah

Oleh

Contributor

Harapan Para Penyandang Cacat Kepada Pemerintah

Bireuen – Komite Peralihan Aceh (KPA) Pusat bersama Yayasan Permata Atjeh Peduli (YPAP) dan Dinas Sosial Bireuen menggelar pertemuan dengan para difabel (penyandang cacat-red) se-Kabupaten Bireeun.

Para difabel yang hadir merupakan perwakilan dari Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni), Himpunan Wanita Difable Indonesia (HWDI), Federasi Penyandang Cacat Tubuh Indonesia (FPCTI). Acara silaturahmi ini digelar di aula pertemuan Dinsos Bireuen.

Kepala Dinas Sosial Bireuen Muhammad Akmal dalam kata sambutannya mengatakan bahwa pertemuan ini baru pertama kali diadakan di Kabupaten Bireuen dalam rangka sharing sesama difabel, mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi dalam bermasyarakat dan mengidentifikasikan strategi pemecahan masalahnya.

Fadhli Djailani, Difable Outreach Coordinator YPAP, dalam siaran persnya kepada wartawan, Selasa (21/1/2014), menyatakan banyak sekali hal yang terungkap dari silaturahmi ini antara lain mengenai diskriminasi dari masyarakat terhadap difable. “Banyak juga pujian bagi difabel tertentu, dan banyak pula harapan yang ingin dicapai oleh teman-teman difabel di Kabupaten Bireuen,” sebutnya.

“Hal-hal yang terungkap antara lain; bahwa di Bireuen belum tersedia Al-Qur’an Braille bagi tunanetra sehingga mereka susah untuk mengajarkan membaca Al-Qur’an kepada tuna netra muda, kecuali hanya dengan menghafalkannya.”

“Begitu juga dengan hal pengembangan hobi,” kata Fadhli. Menurutnya,para tunanetra dan juga difable lainnya berhak untuk mengembangkan bakat dan hobi mereka, terutama hobi yang mudah diasah seperti talenta memainkan alat musik, olah raga. “Seharusnya pemerintah melihat hal ini sebagai kebutuhan utama untuk difabel sebagai kebutuhan psikis,” ungkapnya lagi.

Hal lainnya yang terungkap adalah para difabel di Bireuen berkeinginan sekali untuk duduk dan silaturahmi dengan Bupati dan Wakil Bupati Bireuen untuk sekedar berbincang-bincang.

“Jangan jauhkan kami, lihatlah kami sebagai masyarakat, undanglah kami ke Meuligo Bupati supaya kami bisa merasakan dihargai dan disamakan dengan yang lain,” begitu ungkap Burhan Ketua FKCTI Bireuen.

Perwakilan HWDI, Husna, menambahkan bahwa yang paling penting diberikan kepada penyandang cacat adalah ilmu pengetahuan dan keterampilan. “Mohon bapak-bapak mengasah keterampilan difabel muda Bireuen untuk punya keterampilan. Keterampilan apa saja yang sesuai dengan bakat mereka, supaya mereka terarah hidupnya dan punya keahlian. Jangan sampai mereka merasakan kelezatan minta-minta di jalan,” kat Husna.

Dulu waktu dirinya masih muda, sambung Husna, pemerintah sangat peduli pada penyandang cacat, bahkan ada yang dikirim ke luar daerah. “Tetapi sekarang ini tidak terdengar lagi pengiriman pemuda-pemuda difabel untuk belajar keluar,” sebutnya.

Dalam pertemuan tersebut juga terungkap bahwa masyarakat umum, tokoh masyarakat dan pemerintah harus diberikan pemahamanan serta pengetahuan tentang hak difable, terutama dalam membangun sarana fisik. “Jangankan masyarakat pedesaan dan kecamatan, kami rasakan pihak kabupaten saja dalam membangun fasilitas umum tidak aksesible bagi difabel.”

“Mesjid tangganya tinggi-tinggi, sehingga kami yang pakai kursi roda susah masuk ke dalam, rumah sakit juga seperti itu. Coba lihat kantor dinas sosial saja bertangga dan tanpa akses khusus untuk kami, bagaimana lagi yang lain. Jadi mohon ke depan ini perlu disosialisasikan ke semua lapisan masyarakat,” ucap Husna mewakili teman-temannya.

Sementara itu, Chaidir Direktur YPAP berterimakasih kepada seluruh perwakilan difabel Bireuen yang telah hadir dalam acara silaturahmi ini. “Semoga pertemuaan seperti bisa terus kita lakukan untuk melihat persoalan-persoalan riil yang terjadi dimasyarakat kita. Kami juga mengucapkan terimakasih kepada Muallem (panggilan akrab Muzakir Manaf-red) selaku Ketua KPA pusat yang telah mendukung penuh kegiatan ini. | Source : Atjehlink.com

Share: